Aku menonton film itu tanpa minat. Aku hanya gengsi kalau aku tidak tahu film yang sedang diperbincangkan oleh banyak orang di berbagai belahan dunia.
“Tahu Harry Potter?”
“Tahu.”
Hanya kata itu yang bisa kujawab. Aku tahu penyihir laki-laki yang selamat dari kutukan yang dilancarkan oleh Kau-Tahu-Siapa. Tapi aku tak tahu hal apapun tentangnya.
Kukatakan pada teman yang—ternyata—mengerti impianku kalau aku ingin menjadi penulis. Jujue saja, bahkan saat itu aku lebih mendambakan pekerjaan sebagai penulis ketimbang pekerjaan yang aku jalani saat ini.
Entah bagaimana awalnya, ia menyodorkan sebuah buku padaku. Buku biografi dari sang penulis Harry Potter.
Aku butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Aku perlu waktu untuk meyakinkan diriku kalau setiap kata yang tertulis di sana adalah benar.
